Cara Tertawa Rasulullah SAW Menurut Kitab Asy-Syama-ilul Muhammadiyyah

Share:

Cara tertawa menurut kitab Asy-Syama-ilul Muhammadiyyah merupakan salah satu hal penting yang harus kita ketahui. Dengan hal ini, selain dapat mengikuti sunah maka kita pun tentu akan semakin paham menjalani dan menyikapi kehidupan ini dengan baik. Salah satu yang harus kita perhatikan tentu saat kita tertawa agar bisa mencontoh beliau.

Pada postingan kali ini, kita akan membahas cara tertawa Rasulullah saw. sesuai dengan apa yang telah dijelaskan dalam kitab Asy-Syma-ilul Muhammadiyah. Adapun penjelasan bab ini dalam kitab tersebut adalah sebagai berikut:


Jabir bin Samurah r.a. bercerita:

Betis Rasulullah saw. kecil (tidak gemuk). Beliau tidak tertawa kecuali tersenyum. Bila aku memandang kepadanya, aku berkata (dalam hati), “Betapa hitam pelupuk matanya padahal tidak dihitami.”

Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani' dari 'Abbad bin al-Awwam dari al-Hajjaj bin Arthah dari Simak bin Harb yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a..

Keterangan :
 Al-Hajjaj (Ibnu Arthah) didla ifkan oleh jamaah.

‘Abdullah bin al-Harits bin Juz r.a. bercerita:


Aku tak pernah melihat. seseorang yang lebih banyak tersenyum selain Rasulullah saw...

Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa‘id dari Ibnu Luhai‘ah dari 'Abdullah bin Mughirah yang bersumber dari 'Abdullah bin al-Harits bin Juz r.a..

Keterangan :

‘Abdullah bin al-Harits bin Juz r.a. adalah seorang sahabat Rasulullah saw. dan ia bermukim di Mesir, periwayatannya dikeluarkan oleh Abu Daud dan Nasai.

'Abdullah bin al-Harits r.a. bercerita:


Tiadalah ketawa Rasulullah saw. kecuali tersenyum.

Diriwayatkan oleh Ahmad bin Khalid al-Khilal dari Yahya bin Ishaq as-Sailihani dari Laits bin Sa‘id dari Yazid bin Abu Habib yang bersumber dari 'Abdullah bin al-Harits r.a..

Abu Dzar r.a. bercerita:


Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya aku tahu orang yang pertama kali masuk surga dan orang yang paling akhir keluar dari neraka. Pada hari kiamat nanti akan dihadirkan seseorang maka diperintahkan (kepada Malaikat), ‘Perlihatkanlah kepadanya dosa-dosanya yang kecil dan sembunyikanlah dari padanya dosa-dosanya yang besar.”
Lalu dikatakan kepadanya (oleh Malaikat), ‘Kau melakukan ini ini pada hari ini ....’ Orang itu membenarkannya tanpa memungkirinya sedikitpun. Lagi pula ia merasa takut terhadap dosa-dosa besarnya. Kemudian diperintahkan lagi (oleh Allah swt. kepada Malaikat), “Berikan kepadanya kebaikan untuk menggantikan setiap kejahatan yang ia lakukan.’ Maka orang itu berkata, ‘Sesungguhnya aku masih mempunyai dosa yang tidak diperlihatkan di sini!,” Selanjutnya Abu Dzar berkata, “Maka kulihat Rasulullah saw. tertawa, hingga nampak gigi gerahamnya.”

Diriwayatkan oleh Abu Ammar al-Husain bin Huraits dari Waki' dari A‘masy dari Ma‘rur bin Suwaid yang bersumber dari Abu Dzar r.a..

Jarir bin 'Abdullah r.a. bercerita:


Sejak aku masuk Islam, Rasulullah saw. tidak pernah menghalangiku dan tidak pula beliau memandangku melainkan sambil tersenyum.

Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani' dari Muawiyah bin 'Amr dari Zaidah dari Bayan dari Qais bin Abu Hazm yang bersumber dari Jarir bin 'Abdullah r.a..

Jarir (bin ”Abdullah) r. a. bercerita:

Sejak aku masuk Islam, Rasulullah saw. tidak pernah menghalangiku dan tidak pula memandangku melainkan sambil tersenyum.

Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani' dari Muawiyah bin 'Amr dari Zaidah dari Ismail bin Abu Khalid dari Quis yang bersumber dari Jarir r.a..

'Abdullah bin Mas‘ud r.a. mengungkapkan :


Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya aku tahu penghuni neraka yang terakhir keluar. Ia seorang laki-laki yang keluar dari sana dalam keadaan merangkak. Kepadanya dikatakan, ‘Pergilah dan masuklah ke surga.” (Selanjutnya) Rasulullah saw. bersabda, “Maka orang itu pun pergi untuk masuk surga. Lantas ia temukan orang-orang sudah menempati semua tempat (yang tersedia). Maka ia kembali seraya berkata, ‘Ya Rabbi, orang-orang sudah menempati semua tempat (yang tersedia).’ Kepadanya dikatakan, ‘Apakah kau ingat suatu masa yang pernah engkau berada padanya?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ (Selanjutnya Rasulullah saw. meneruskan ceritanya). Dikatakan kepadanya, “Berangan-anganlah.“
Maka orang itu pun berangan-angan.
Maka dikatakan kepadanya. “Sesungguhnya tersedia bagimu sebagaimana yang kau angankan dan sepuluh kali lipat dunia.“ Setelah itu Rasulullah saw. meneruskan ceritanya. "Kemudian orang tersebut berkata, 'Engkau memperolokan daku dan Engkaulah Penguasa.”
Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Sungguh aku melihat Rasulullah saw. tertawa (tersenyum) hingga nampak gigi gerahamnya.”

Diriwayatkan oleh Hanad bin as-Sari dari Abu. Muawiyah dari A'masy dari Ibrahim dari Abidah as-Salmani yang bersumber dari ‘Abdullah bin Mas'ud r.a..

'Ali bin Rabi‘ah ra. bercerita:

Aku menyaksikan Ali kw. membawa hewan (kendaraan), yang akan ditumpanginya. Manakala ia akan meletakkan kakinya di sanggurdi, maka dibacanya. “Bismillah” (Dengan nama Allah) Manakala ia telah duduk tenang di atas kendaraan (di punggung hewan). maka dibacanya, “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah), kemudian ia berdoa, “Subhanal ladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinina wa inna ila rabbina lamunqalibun” (Maha Suci Engkau Yang telah menundukkan semua ini bagi kami. Pa dahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya dan sesungguhnya hanya kepada Engkau-lah kami kembali). Setelah itu ia membaca, “Alhamdulillah” tiga kali, “Allahu akbar” tiga kali, dan “Subhanaka inni zhalamtu nafsi faghfir li fa innahu la yaghfirudz dzunuba illa anta” (Maha Suci Engkau ya Allah. Sesungguhnya aku telah menganiaya diriku. Sebab tidak ada yang mampu mengampuni dosa kecuali Engkau).

Kemudian Ali k.w. tertawa. Maka aku pun bertanya kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa Anda tertawa?”
Ia menjawab, “Aku melihat Rasulullah saw. melakukan sebagaimana yang kulakukan tadi kemudian beliau tertawa. Ketika itu aku (Ali k.w.) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa Anda tertawa?’
Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Rabb-mu amat kagum terhadap hamba-Nya, bila ia berkata, “Ya Rabbi, ampunilah dosa-dosaku!’ Ia tahu bahwa tiada seorang pun yang dapat mengampuni segala dosanya selain Dia.”

Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa‘id dar'i Abul Ahwash dari Abu Ishaq yang bersumber dari ‘Ali bin Rabiah r.a..

'Amir bin Sa‘ad r.a. menceritakan pengalaman ayahnya (Saad bin Abu Waqqash r.a.) sebagai berikut:


Sa‘ad bin Abu Waqqash r.a. berkata, “Sesungguhnya aku melihat Nabi saw. tertawa pada waktu perang Khandaq sehingga tampak gigi gerahamnya.” (Selanjutnya) Amir bin Sa’ad bertanya, “Apa sebabnya Rasulullah saw. sampai terawa?” Sa‘ad (ayahnya) menjawab, “Ada seorang laki-laki (kafir) memegang perisai. (Pada saat itu Sa‘ad bertugas sebagai pemanah).

Laki-laki kafir itu berkata, “Begini......... begini!’ dengan perisai menutup dahinya. Maka Sa‘ad mencabut anak panahnya, tatkala laki-laki itu menyembulkan kepalanya dari perisai, ia lepaskan anak panahnya, ternyata tidak meleset, anak panahnya mengenai diri laki-laki itu. Ia pun terjungkal dan terangkat kakinya ke atas. (Melihat kejadian itu), Nabi saw. pun tertawa, hingga tampak gigi gerahamnya”. Apa sebabnya Nabi saw. tertawa? Amir bin Sa'ad menjawab, “Karena Sa’ad berhasil membunuh laki-laki kafir itu.”

Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar dari Muhammad bin 'Abdullah al-Anshari dari 'Abdullah bin 'Aun dari Muhammad bin Muhammad bin al-Aswad yang bersumber dari 'Amir bin Sa‘ad r.a..



No comments